Ketika Luka Anak Menyelinap ke Dalam Cerita

Author: Anita

By Anita

Contributing Editor

|
Main image

At a glance

  • Luka anak tidak selalu terlihat, sering kali ia muncul lewat tokoh, alur, dan dunia cerita yang mereka tulis.
  • Menulis memberi jarak aman bagi anak untuk mengolah pengalaman tidak menyenangkan tanpa harus langsung berkata “ini tentang aku”.
  • Buku seperti “Kisah Traumanya Berteman” menunjukkan bagaimana cerita bisa menjadi ruang aman bagi anak untuk berdamai pelan-pelan dengan luka di dalam dirinya.

Luka yang Tidak Selalu Terlihat

Luka anak tidak selalu datang dalam bentuk memar, jatuh, atau tangisan keras. Ada luka yang lebih halus, yang diam-diam tinggal di dalam dada seperti rasa takut ditinggalkan, pengalaman dibully, sering dimarahi, diejek, diabaikan, atau merasa tidak pernah cukup bagi orang-orang yang ia sayangi.

Dari luar, seorang anak mungkin terlihat “baik-baik saja”: masih tersenyum, masih bercanda, masih bermain. Namun di dalam kepalanya, ada banyak pertanyaan yang berputar “Kenapa mereka jahat sama aku?” “Aku salah apa?” “Kenapa rasanya aku sendirian?” Pertanyaan-pertanyaan itu sering tidak keluar sebagai kalimat, tapi justru muncul dalam bentuk tokoh, dunia imajiner, dan cerita.

Di situlah luka anak mulai menyelinap ke dalam cerita yang ia buat.
Tokoh yang merasa tidak punya teman, tokoh yang ditinggal sendiri, tokoh yang berusaha kuat padahal hatinya rapuh semua itu bukan sekadar “ide cerita menarik”. Sering kali, itu adalah cara halus anak untuk berkata “Ini yang aku rasakan, tapi aku belum bisa mengatakannya sebagai diriku sendiri.”

Ketika Luka Menemukan Jalan Pulang Lewat Tulisan

Menulis memberi anak jarak aman dari lukanya.

Alih-alih berkata, “Aku sedih,” anak bisa menulis, “Tokoh ini sedih.” Alih-alih mengaku “aku takut ditinggalkan”, anak bisa membuat tokoh yang takut sendirian di tengah kerumunan. Melalui tokoh itu, anak boleh mengeluarkan isi kepalanya tanpa merasa terlalu telanjang.

Dalam proses menulis, ada beberapa hal yang pelan-pelan terjadi. Anak belajar memberi nama pada perasaannya. Anak belajar menyusun ulang pengalamannya menjadi alur, ada awal, tengah, dan akhir. Anak juga bisa membayangkan kemungkinan baru seperti tokoh mendapat teman, luka perlahan membaik, ada orang dewasa yang mengerti, atau tokoh menemukan keberanian yang sebelumnya tidak ia punya.

Dengan cara ini, tulisan bukan sekadar karya. Ia menjadi semacam jembatan kecil antara dunia dalam diri anak dengan dunia luar. Jembatan yang tidak memaksa anak langsung “curhat”, tetapi tetap memberi ruang bagi apa yang ia pendam untuk muncul ke permukaan.

Kisah Traumanya Berteman, Saat Luka Dikemas Menjadi Buku

Salah satu contoh indah bagaimana luka bisa menyelinap ke dalam cerita dan kemudian menemukan bentuknya adalah buku karya Aulia Fakihatul Jannah, siswi kelas 6 yang menulis di usia 13 tahun. Ia menulis sebuah buku dengan judul yang begitu jujur dan menyentuh Kisah Traumanya Berteman.

Dari judulnya saja, kita sudah bisa merasakan bahwa yang ia bawa bukan sekadar cerita ringan tentang persahabatan. Ada sesuatu yang lebih dalam di sana, pengalaman pertemanan yang tidak selalu manis, rasa takut untuk dekat dengan orang lain, mungkin juga kenangan tidak enak yang melekat saat ia mencoba berteman.

Lewat “Kisah Traumanya Berteman”, Aulia menunjukkan bahwa anak seusianya mampu:

  • mengenali bahwa ada sesuatu yang “tidak nyaman” dalam pengalaman berteman,
  • memberi nama pada pengalaman itu sebagai “trauma”,
  • dan yang paling berani, menceritakannya.

Ia memilih untuk tidak hanya menyimpannya dalam hati. Ia menjadikannya cerita. Ia membiarkan orang lain masuk, mengintip, dan merasakan potongan perjalanan emosinya. Buku itu menjadi bukti bahwa anak memiliki kemampuan luar biasa untuk mengolah rasa sakitnya melalui karya, bukan hanya melalui diam.

Bagi anak lain yang membacanya, kisah seperti itu bisa menjadi cermin:
“Oh, bukan cuma aku yang merasa pertemanan itu melelahkan.”
Bagi orang dewasa, ini bisa menjadi undangan
“Yuk, dengarkan lebih dalam, karena anak bisa membawa luka yang kita tidak lihat.”

Cerita sebagai Ruang Aman, Bukan Penghakiman

Yang penting, ketika anak menulis tentang luka, tujuan kita bukan mengoreksi atau menghakimi ceritanya. Tugas kita bukan bilang, “Ah, jangan lebay, masa temenan dibilang trauma,” atau “Udah, tulis yang happy-happy aja.”

Justru sebaliknya, kita bisa berkata,
“Terima kasih sudah berbagi lewat cerita.”
“Ternyata pengalaman berteman bisa berat ya buat kamu.”
“Boleh kuceritakan betapa aku bangga kamu berani menulis ini?”

Dengan begitu, cerita menjadi ruang aman di mana anak untuk boleh punya perasaan yang rumit, boleh mengaku lelah, kecewa, dan takut, dan tetap merasa diterima apa adanya.
Saat dunia nyata terasa sulit dipahami, tulisan membantu anak menyusun kembali ceritanya sendiri. Luka yang sebelumnya kacau di kepala, pelan-pelan ditata menjadi alur. Pertanyaan yang tadinya sendirian, pelan-pelan mendapat teman melalui tokoh-tokoh di dalam buku.

Tentang Kelas Karya

Di Kelas Karya, kami percaya bahwa tidak semua cerita anak harus berakhir bahagia secara sederhana. Ada anak yang menulis tokoh yang ditolak teman-temannya. Ada yang menulis tentang kehilangan. Ada yang menciptakan tokoh yang marah pada dunia, tapi diam di luar. Kami tidak melihat cerita-cerita itu sebagai gangguan, melainkan sebagai pintu yang dibuka anak sedikit demi sedikit.

Lewat latihan menulis kreatif, journaling emosi, dan sesi berbagi, kami berusaha menghadirkan ruang di mana anak boleh membawa lukanya tanpa dipaksa menjelaskannya. Di ruang ini, mereka boleh bilang “ini cuma cerita”, sambil diam-diam menaruh potongan hati mereka di antara baris-barisnya. Tugas kami bukan menerapi, tetapi menyimak, menemani, dan memberi tempat aman bagi karya mereka tumbuh.

Kami belajar dari buku-buku seperti Kisah Traumanya Berteman. bahwa keberanian anak untuk menulis tentang pengalamannya layak dihargai. Setiap halaman yang mereka selesaikan adalah langkah kecil untuk berdamai dengan sesuatu di dalam diri mereka.

Ketika luka anak menyelinap ke dalam cerita, mungkin itu adalah caranya mengetuk pelan 'Tolong lihat aku, jangan buru-buru menutup buku ini.'
Kelas Karya Philosophy

Suka cerita ini?

Dapatkan artikel terbaru, tips kreatif, dan penawaran spesial dari Kelas Karya.

Baca Juga

Book a Book ID

Subscribe to Our Newsletter:


© 2025 Bookabook.id (PT Asia Aseta) All Rights Reserved.